La Storia Di Un Grande Amore

Come un abraacio noi, e ancora non ci basta. Minggu dinihari bisa menjadi pelengkap bagi syair ini. Bisa. Quando fischia l’inizio, inizia quel sogno che sei. Saat pertandingan dimulai, semua Juventini berharap kutukan final berupa 6 kali kegagalan akan patah, menunjukkan bahwa Juventus bisa berbicara banyak di Eropa.

Juventus memang mendominasi Italia dalam enam tahun terakhir, 6 scudetto dan 3 Coppa Italia. Namun jika berbicara Liga Champions yang menjadi target tertinggi mereka saat ini, Juventus masih belum memiliki wajah yang garang, setidaknya di hadapan klub-klub kandidat juara seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, atau bahkan Paris Saint-Germain.

Kesebelasan-kesebelasan di atas memiliki pemain terbaik, dan terus mendatangkan pemain terbaik lainnya untuk meningkatkan kualitas tim. Sedangkan Juventus, dalam perjalanannya meraih”Big Ear”, selalu kehilangan pemain terbaiknya. Tambal sulam dilakukan tapi tidak bisa dikatakan improvement.

Usai menjadi runner-up UCL 2015, Juve kehilangan Carlos Tevez, Andrea Pirlo, dan Arturo Vidal. Setahun berselang giliran Paul Pogba dan Alvaro Morata yang hengkang. Skuad Bianconeri memang ditambal dengan kehadiran Dybala, Mandzukic, Khedira, Cuadrado, dan Alex Sandro pada 2016, tapi langkah mereka di UCL hanya sampai fase 16 besar.

Musim panas 2016, transfer untuk ambisi UCL tampak cukup menjanjikan ketika pemain-pemain seperti Dani Alves, Miralem Pjanic, hingga Gonzalo Higuain bisa didatangkan. Namun skuat Juventus tentunya akan lebih mengerikan lagi jika Pogba masih menjadi bagian dari skuat Juventus musim ini.

Meskipun begitu, pada akhirnya filosofi klub tetaplah yang utama bagi La Vecchia SignoraJuventus telah melepas Pogba sebagai bukti keteguhan mereka memegang tradisi. Mereka tinggal membuktikan diri bahwa tanpa Pogba, Juventus tetap bisa mendapatkan scudetto dan atau bisa menjuarai UCL. Karena jika sampai gagal di Eropa (lagi), bisa jadi keputusan melepas para pemain terbaiknya akan menjadi keputusan yang kurang tepat, yang bisa disesali di kemudian hari.

Benar saja, bersama klub “aslinya” Manchester United, Pogba meraih trofi Europa League dengan mengandaskan Ajax Amsterdam. Sementara bagi Juve, sekali lagi, filosofi mereka harus dibayar dengan kegagalan ketujuh di final paling prestisius di Eropa. Jelas filosofi Juve menjadi faktor yang penting dibalik sembilan final Bianconeri.

Di 1985, saat pertama Bianconeri merebut titel raja Eropa, terjadi tragedi yang tidak akan pernah dilupakan; Tragedi Heysel. Melawan Liverpool di Stadion Heysel, Belgia, tembok pembatas antara Juventini dan Kops rubuh, menewaskan 39 suporter Juve dan berujung pada larangan bermain bagi klub Inggris di UCL selama 5 tahun. Roberto Battega mengatakan gelar 1985 tidak pernah dianggap sebagai kemenangan sejati.

Michel Platini yang mencetak gol penentu kemenangan Juve memang bukan produk asli Juve melainkan didatangkan dari Saint-Etienne. 5 tahun berseragam hitam putih sebelum pensiun, Platini mendeklarasikan ini di pertandingan terakhirnya;

“I played for Nancy because it was my hometown club and the best in Lorraine, for Saint-Étienne because it was the best team in France, and for Juventus because it is the best team in the world! – Michel Platini”

Sebelas tahun kemudian, Olimpico, Roma menjadi saksi kemenangan “pertama” Juve di kancah Eropa. Final UCL 1996 mempertemukan Bianconeri dengan Ajax Amsterdam, juara bertahan UCL tahun sebelumnya dihempaskan Juve dengan skor akhir 5-4 di babak adu penalti setelah imbang 1-1.

Gol pembuka Juve dicetak Fabrizio Ravanelli di menit 13, Ajax membalas melalui Jari Litmanen menjelang turun minum. Di adu penalti, Ciro Ferrara, Gianluca Pessotto, Michele Padovano, dan Vladimir Jugovic mengunci gelar asli pertama bagi Bianconeri. Pesta sebagai peringatan 99 tahun Juventus. Hanya Ferrara dan Pessotto yang menjadi bagian dari Bianconeri untuk waktu lama.

Setelah itu, La Vecchia Signora melaju dalam 4 final lagi; 1997, 1998, 2003, dan 2015. Keempatnya kalah. Borussia Dortmund merusak ulangtahun keseratus Juve, selanjutnya Juve kembali gagal di final UCL ketiga beruntun mereka, kali ini di tangan Real Madrid. Juventus menutup dekade 1990 dengan catatan 1 gelar UCL, 2 UEFA Cups, UEFA Super Cups, dan Intercontinental Cups dalam lemari.

Sementara di level domestik, 3 scudetto dan 2 Coppa Italia menegaskan status Juve sebagai salah satu team to feared di sepakbola Eropa. Beralih ke dekade millenium, masih dibawah komando Marcello Lippi, Juve menambah dua gelar scudetto, 2 Coppa Italia, dan satu final UCL. Old Trafford, 2003, menjadi final UCL pertama Juve sejak 1998 dan lawannya adalah seteru domestik, AC Milan.

Kembali menjalani adu penalti, algojo Bianconeri adalah David Trezeguet, Alessandro Birindelli, Pablo Zalayeta, Paolo Montero, dan Alex Del Piero. Hanya dengan Birindelli dan Alex yang sukses, Juve harus merelakan UCL melayang ke Milan. Marcello Lippi mengambil alih kemudi Gli Azzuri setahun kemudian sementara Juve terjerembab Calciopoli.

Gold-Juventus-Kit

2008/2009 menjadi awal Juve kembali ke panggung Eropa, tapi tidak sampai pada 2014/2015 mereka kembali dianggap pesaing untuk UCL. Melaju ke final di Berlin dengan catatan 7 menang, 3 imbang, dan 2 kalah, lawan yang dihadapi adalah Barcelona. Yah, melawan Barcelona, Juve menunjukkan permainan menawan di babak pertama, hanya tertinggal oleh gol cepat Ivan Rakitic.

Menyamakan kedudukan lewat Alvaro Morata di menit 55, Juve harus gigit jari setelah kembali tertinggal di menit 68. Luis Suarez menyegel titel kelima Barca di injury time. Dari final ini terlihat bagaimana jinx babak kedua menghantui Juve, terutama saat mereka dalam posisi tertinggal. Meski masih bisa dimaklumi karena itu langkah pertama Juve ke final Eropa dalam 12 tahun.

UCLCardiff2017

Di 2017, Juve masih merajai kompetisi domestik dengan membuat #LE6END, dan secara impresif kembali melaju ke final UCL dengan catatan mentereng; tanpa kalah dan menyandang status sebagai tim dengan pertahanan terbaik di UCL. Lebih-lebih, mereka menyingkirkan Porto, Barcelona, dan AS Monaco dalam road to final. Apapun finalnya, Dove tu arriverai, sarà la storia di tutti noi.

Lawannya pun tak kalah mentereng, juara bertahan Real Madrid yang mengincar rekor back-to-back juara UCL sekaligus penyandang gelar tim dengan serangan terbaik musim ini. Perang antara pedang dan tameng di Cardiff. Siapapun mengira pertandingan akan berjalan seru.

Benar saja, jual beli serangan terjadi di babak pertama. Bianconeri mencatat 8 peluang di babak pertama, hanya saja Keylor Navas di bawah mistar Madrid tampil memukau. Gol spektakuler Mario Mandzukic di menit 27 menyamakan kedudukan setelah CR7 membobol gawang Gigi Buffon di menit 20.

Babak pertama 1-1. Sesuai yang diharapkan dari pedang dan tameng. Di babak kedua tempo sedikit menurun, dan disinilah kesalahan fatal La Vecchia Signora, mereka membiarkan Real Madrid mengendalikan permainan yang berujung pada gol kedua Madrid oleh tendangan jarak jauh Casemiro menit 61. Gol ini membuyarkan konsentrasi pemain Juve sehingga 3 menit kemudian, kerjasama Luka Modric dan CR7 membanting Bianconeri ke tanah.

3-1 dengan 22 menit tersisa. Aku masih menyimpan asa jujur saja, karena setelah menjadi saksi Istanbul 2005, tidak ada yang tidak mungkin. Sayangnya, pemain Juve sangat-sangat underperformed di babak kedua seiring tertinggal dua gol. Mental yang membuat mereka memenangi Coppa Italia setelah dihajar AS Roma tidak tampak, justru banjir kartu kuning untuk anak-anak Turin.

Miralem Pjanic dan Alex Sandro masing-masing satu, sementara Juan Cuadrado harus keluar setelah hanya 18 menit di lapangan. Dengan 10 pemain melawan Real Madrid, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mencegah kebobolan lebih banyak. Sialnya, Madrid justru menambah gol penyegel lewat Sergio Ascencio di injury time. Cerita 2015 terulang, hanya lebih pahit.

Penampilan Juve di babak kedua memang sangat mengecewakan. Terbawa arus permainan Madrid, gagal bereaksi atas gol Casemiro menjadi faktor penentu di laga final ini. 4 gol yang bersarang di gawang Gigi Buffon juga adalah yang terbanyak di satu pertandingan musim ini, sebelumnya maksimal hanya 3 gol yang harus dipungut Gigi dalam satu pertandingan.

buffon-kan-inzinking-juventus-in-tweede-helft-niet-verklaren

Membicarakan Gigi, berarti membicarakan kegagalan (lagi) untuk meraih Big Ear. 3 kali final dan 3 kali kalah. Mengingat Gigi sendiri sudah 39 tahun, mungkin untuk selamanya dia tidak akan merasakan mengangkat satu-satunya trofi major yang belum didapatkan di level klub. Gigi sendiri menyatakan akan pensiun dua-tiga tahun lagi, dan meski semua Juventini berharap dia akhirnya bisa mewujudkan impiannya, mari hanya menyilangkan jari dan berharap yang terbaik.

Sementara untuk Juve, ini adalah kegagalan ketujuh kali. Dari sembilan final, hanya dua kali juara. Hanya saja tidak seperti final 2003 atau 2015 dimana mereka kalah dengan terhormat, kali ini aku harus bilang kami layak kalah. Malam ini bukan Juve yang berada di level terbaiknya. Madrid layak menang dan menulis sejarah lewat DuoDecima dan menjadi tim back-to-back champions di UCL.

del-piero-and-buffon-juventus-alessandro-del-piero-34551697-500-256

Menang tanpa arogansi, kalah tanpa mencaci. Juve per sempre sarà. #FinoAllaFine

All images used is credited to it’s respective owners

Advertisements

50 Comments

  1. Kalo boleh menganalisis dengan kapasitas sebagai orang awam, ada 3 minus point Juve di Final tadi. Dybala, Khedira dan teamwork.
    – Dybala kayak demam panggung. Dia ga bisa bermain seperti biasanya. Padahal, peran dia untuk menarik pemain lawan dengan dribble dan pergerakannya bisa dimanfaatkan Higuain buat cari posisi nyaman. Babak kedua agak meningkat, tapi masih kurang. Keliatan belum siap dia untuk event sebesar ini. Seharusnya, kalo Alegri berani, harus ganti dia pas turun minum. Sapa yg pas, min?

    Khedira ga keliatan. Ga ada intersep penting yg dia lakukan, sepenglihatan ane. Terus aksi dia yg suka maju juga ga keliatan. Mungkin Marchisio lebih pas?
    Teamwork juga ga keliatan. Banyak main individu. Malah jadi ngingetin salah satu pemain Barca yg ga begitu ane suka saat ini. 😀 Dan ga tau kenapa, Juve kok ga manfaatin sayap. Jarang ada umpan ke sisi lain lapangan, padahal ane liat banyak ruang kosong disitu.

    Dilain sisi, Real bermain seperti biasanya. Cepat dan ga perlu berlama2 dengan bola. Selamet deh buat Real. Ditunggu di Supercopa. Semoga tim ane bisa menang disitu. 😀

    Like

    1. La Joya emang gak nunjukin kelasnya kalau di UCL. Dari semifinal kemarin cuma kebagian jadi playmaker tapi semalem kurang bisa ngembangin sebagai Trequartista. Jalannya masih jauh. Kalau harus digantiin pas turun minum, pilihan cuma Cuadrado, tapi juga ganti formasi.

      Khedira angin2an sih, kadang bagus kadang melempem. Cuma timingnya salah bener kali ini. Tapi dari semua midfielder Juve di final cuma Alex Sandro yang mendingan. Gak manfaatin sayap? Dani Alves mati, Mandzukic habis2an di offense & defense, Dybala underperformed, Lichtsteiner gak main, wajar aja sayapnya gak terlalu main.

      Supercopa? Super Cup kali? 😀

      Like

    2. Masa sih? Pas ngebantai Barca, bagus mainnya dia. Apa karena kalah sama pemain tengahnya Madrid, dia jadi ga bisa gerak bebas.

      Padahal Khedira salah satu favorit ane di Jerman. Kalo diklub agak gimana gitu mainnya.
      Maksud serangan sayap, pindahin bola dari sisi kanan langsung ke kiri. Sebenernya, kalo Juve ganti strategi, manfaatin Mandzukic terus, bisa lumayan hasilnya, karena Carvajal kerepotan lawan dia. Bisa aja formasinya diganti jadi 433, Mandzukic jadi striker sejajar dengan Higuain dan Dybala dibelakang mereka, Chiellini digeser ke bek sayap kiri, Akex Sandro suruh maju jadi gelandang bertahan, Dani Alves mundur ke posisi bek sayap kanan. Pjanic dan Khedira/Marchisio jadi pemain tengah yg naik turun. Tapi, meski berandai-andai, hasilnya udah muncul. Tahun depan balas dendam. 😀
      Tapi, firasat ane emang udah ga enak, pas Juve dikalahin Roma 3-1. Ane liat, Roma waktu itu mainnya mirip Real. Dan, Real sendiri lebih kuatlah dari Roma dari sisi penyerangan.

      Super Cup atau Supercopa de España, sama aja. 😀

      Like

    3. Ya kan ane bilangnya dari semifinal Dybala mainnya kurang oke.

      Di klub banyakan cedera sih.
      Kalau di kiri kan ada Mandzukic, nah kanannya ini yang melompong soalnya gak ada Lichtsteiner yang bisa jadi support Dybala. Emang kemarin di final cuma ngandelin dari kiri, bisa diliat dari heat map. Tahun depan, tahun terakhir buat Gigi, dan mungkin buat barisan belakang Juve soalnya Operazione Futuro katanya udah siap dieksekusi sama manajemen klub.

      Kekalahan lawan Roma itu harusnya bisa jadi pembelajaran, dan bener aja bisa kan di final. Babak pertama doang sih. Babak kedua itu anomali.

      Anti-Madrid bener ini kayanya 😀

      Like

    4. Barca perempatfinal, ya? Lupa ane. 😀

      Yg ane liat, tengahnya Juve kemaren mati kutu. Pjanic dan Khedira ga bisa bergerak bebas, sibuk jaga Modric dan Isco. Jadi, Juve dipaksa maen sayap. Yg ane liat juga, Casemeiro ga terlalu kerja keras kemaren. Ane pikir bakalan ada duel antara dia dan Dybala, tapi Dybala juga dipaksa main ke sayap.
      BBC emangnya mau diubah? Bonuci mau ke Chelsea, ya?

      Ane ga anti Madrid, kok. Bahkan banyak pemain Madrid yg ane suka. Tapi, sempet benci banget pas dilatih Mou. Permainan indah Madrid ilang, diganti dengan kick n rush.

      Like

    5. Yah, satu2nya yang bisa ane bilang cuma strategi menyerang yang diganti jadi (mau gak mau harus) bertahan di babak kedua jadi kunci final kemarin.

      Satu persatu mau dilepas mulai transfer besok, veteran2 di lini belakang paling utama. Gigi sendiri kemungkinan pensiun 2018, jadi dua musim lagi bisa jadi pertahanan Bianconeri berbeda 180 dari sekarang.

      Madrid paling bagus dari era Galacticos 1 sih ya sekarang pas dilatih Zizou. Sama pas dilatih Don Carlo di musim pertama.

      Like

    6. Keliatan banget, pas nyerang, ga bisa bareng kayak babak pertama. Babak kedua penyerangnya kayak main sendirian, kurang dukungan. Kalo ga salah ingat, Madrid juga pakai strategi cukup jitu. Mereka tau bahayanya Dybala, dia dipaksa main ke sayap kanan dan dikepung 3 atau 4 pemain. Jadi, selain matiin Dybala, mereka juga matiin Dani Alves.

      Sekarang, tergantung pelatihnya, masih mau pake sistem pertahanan yg sama atau ga. Kalo salah satu BBC keluar apa masih bisa kompak atau ga.
      Ada kemungkinankah, Donnaruma masuk, gantiin Buffon?

      Jamannya Zidane nomor 5 di Madrid oke banget tuh permainannya. Dan pas masih ada Raul, Helguera dan Hierro, enak juga ngeliatnya. Sentuhan2nya oke. 😀

      Like

    7. Bukan cuma dari kanan, Mandzukic di kiri juga habis di babak kedua. Masuknya Cuadrado sempat bikin Juve bangkit tapi keburu dapet dua kartu jadinya ya tamat juga.

      Udah sering kok BBC gak main bareng. Ada Lichtsteiner sama Dani Alves, ada juga Daniele Rugani, sama kemungkinan Mattia Caldara mendarat musim depan. Jadi regenerasi bek bisa dibilang aman. Donnaruma emang lagi ngambang sama Milan, ada kans gabung Juve tapi harus siap setahun dijadiin pelapis Gigi, ane gak mikir dia mau jadi ban serep apalagi tahun depan Piala Dunia.

      Keliatan bener tuanya, angkatan bapak kos sebelah 😀

      Like

  2. Kalau boleh ane mencaci satu pemain yang hampir selalu jadi biang kekalahan tim di final itu ya Higuain. Gak di timnas, gak di klub, pemain ini selalu useless ketika di final.
    Dan… Sergio Ramos such a cheater. I hate this guy.
    Well, sebenarnya ane dukung Juve cuma gara2 faktor Buffon aja. Tapi Madrid lebih superior td malam. Makin sulit tuh dikejar 12 pialanya sama tim2 lain. 😀

    Like

    1. Kurang cocok juga kalau nyalahin Higuain seorang, soalnya dari Trequartista Juve cuma Mandzukic yang mendingan di final.

      Kalau di final gini sih, banyak yang kumat dramanya jadi ane gak heran. Cuma Mandzukic yang tahan banting meski dihajar berkali2 semalam.

      Babak pertama berimbang, babak kedua ancur2an, jadi yah, ada yang menang ada yang kalah. Football.

      Like

  3. Kesal juve kalah, meski skrng ane bukan fans Juve, tpi dulu, ketika liga italia masih jadi liga yg paling favorit, disiarin tv nasional, del piero masih bernomor 10, msih ada nedved, thuram, ane fans juve,
    klo skrng alasan kesal ane gra2 faktor ane gk suka sama tim lawan yg menang (faktor jadi fans barca sih) XD

    No.7, ntah sapa namanya, baru msuk babak kdua dgn harapan bisa beri kekuatan baru eh malah berulah sampe dikeluarin, yah walaupun klo diliat dari tayangan ulang kejadian itu gk lepas dari teatrikal Ramos (dan ini bikin ane semakin grrr sama bek satu ini) XD

    Buat om Buffon, meski saat ini ane gk ikutin juve, bahkan ketertarikan ane sama dunia sepak bola dah hilang, tpi klo ditanya siapa kiper favorit ane, dari dlu sampe skrng gk akan pernah berubah jawaban ane, om Buffon.
    Yg sabar ya om, meski gagal lagi buat megang si “kuping besar”, moga blum mau pensiun n coba lagi dilain kesempatan 🙂

    Like

    1. Paragraf pertama ini sungguh menunjukkan usia anda yang sebenarnya XD

      Gak nyalahin satu pemain aja, tapi emang Cuadrado terkesan ikut terbawa tensi Madrid. Dia aslinya emang cukup panasan, tapi dua kartu dalam 18 menit itu rada over emang. Yah, ini sepakbola 11 orang, nyalahin satu orang aja gak adil. Lagian, ini semua juga efek dari filosofi Juve.

      Gigi masih punya ambisi terakhir untuk Big Ear tahun depan, kontrak terakhirnya karena ancang2 pensiun juga setelah World Cup. Kalau bisa tahun depan, bakal jadi penutup karir klub yang manis buat Gigi. #FinoAllaFine

      Like

    2. Hahahaha, itu waktu ane maish balita kyknya, ane kan dah jadi penikmat bola waktu masih balita dulu XD

      Eh dua kartu merah ya? ane taunya cuma si no.7 itu aja, yg satu lagi siapa?
      Dan ane lupa, satu lagi kekesalan ane krn ane gk bisa nonton scr utuh, ntah dari pusatnya atau stasiun S*TV di daerah ane yg bermslah, rusak2 T.T

      Baguslah klo msih ada ambisi n blum mau pensiun, mudah2an nasibnya lebih bgus di UCL tahun depan 🙂

      Like

    3. Bahkan kalaupun ente masih balita, klaim ente sebagai anak kelahiran millenium patut dipertanyakan XD

      Dua kartu kuning maksudnya pak…
      Hari gini tergantung TV? Streaming dong pak 😎

      Ambisi yang terakhir kali. Lebih oke kalau bisa treble + bawa Gli Azzuri sejauh mungkin di Russia. The man deserved it.

      Like

    4. Bukannya zaman buffon, ol del pie, nedved sama thuram masih terjalin di zaman 2000an, paslah waktu itu ane masih balita XD

      Masih terguncang ya jiwanya XD
      Ogah streaming buat sesuatu yg bukan ane minati, itupun nonton niatnya cuma pngen liat si RM kalah, eh taktaunya menang pl XD

      Ane baca berita dia msih brharap ditahun depan, Oklah
      “bawa Gli Azzuri sejauh mungkin di Russia” pertandingan apa di russia, bahas nya yg jelas aja, ane kan dah gk ngikutin berita bola lgi XD

      Like

    5. Ole del pie itu makanan yang kaya gimana pak? XD

      Ente kali yang salah paham XD
      Kalau gak ada #HBD-nya gak doyan nonton ya XD

      “Pertandingan apa di Russia”? ini sih bukan gak ngikutin bola, emang kelamaan hidup di gua aja XD

      Like

    6. Mau nulis om del pie, mungkin jiwa ane masih terguncang XD

      Oh iya ya, stelah ane baca lagi, ente nulis “dua kartu” trus ane nanggepin “2 kartu merah?” brrti ane yg terguncang XD
      Emng ane si agan Abud XD

      Ya mau gmn lagi, buka tipi jarang, cuma buat nonton GP sama highlight moto Go, selain itu cuma nonton doraemon, shinchan, upin ipin, danny phantom XD
      Jadi, ada pa di rusia?

      Like

    7. Om del pie ini variasi lain kah? XD

      Tuh kan, suntik dulu sana! x2 XD
      Sama aja kayanya XD

      Internet dipake buat apaan sih? XD
      Googling aja yah, russia 2018, ane males jelasinnya XD

      Like

    8. Ya, variasi rasa spesial, yg pake telor 2 XD

      Jgn2 ini gra2 kebanyakan disuntik lagi, jadi mabuk ane XD
      Sori ya, dia emng suka menyama-nyamakn dirinya dgn ane, tpi ane tegaskan, kami beda 😎

      Ya cuma buat ngidol XD
      Yasslam, piala dunia ternyata, kok cepet amat ya rasanya, dah mau WC aja XD

      Like

    9. Makanya, jadi M itu boleh tapi jangan terlalu over. Nama orang aja jadi makanan XD
      Yang dibicarain ini aktivis #HBD, kalau ente pengikut #HBD. Sama tapi beda lah XD

      Gak terlalu mendidik jawabannya XD
      Apa? Ente mau ke WC? XD

      Like

    10. Ya klo gk over gk bisa jadi M lah XD
      Ane bukan pengikut #HBD, ane cuma korban XD

      Emngnya sapa yg mau di didik? XD
      Knp? Mau ikut? XD

      Like

    11. Iya aja lah XD
      Dari korban jadi pasien, sama aja! XD

      Kasian adek2 ente, abangnya gak mendidik XD
      Enggak, cuma ngingetin jangan lupa disiram, jangan pake pasir XD

      Like

    12. Ya iya dong, masak ya iya lah XD
      Tidak2, ini pencemaran nama baik namanya

      Mreka dah besar, gk harus ane lagi yg didik, ane hanya menarahkan dan mengamati perkembangan mereka 😎
      Ciyeeee, klo ente pake pasir ya? XD

      Like

    13. Bukan pencemaran nama baik kalau sumbernya dari kos kandang serigala XD

      Bagus itu dilepas aja, kalau lama2 dalam pengaruh ente kasian mereka XD
      Ane pake minyak tanah XD

      Like

    14. Justru klo dari penghuni kosan sbelah lah yg patut dicuriga, disana banyak tukang kompor, tukang fitnah dsb, kecuali yg punya kosanya XD

      Kasihan dri mana, mereka hidup dgn penuh kebijakan dri ane XD
      Waduh, panas dong bemper belakang ente XD

      Like

    15. Kan dah pernah ane bilang, ane kenal sosok itu gra2 dia sering lewat depan rumah ane, hanya sebatas itu Xd
      Oh iya partner menjalani kebun asem 😀

      Itu kan kesimpulan mnurut situ

      Like

    16. Nyari harta karun dia 😀

      analisa mendalam saja tidak cukup untuk menilai kehidupan ane 😎

      Like

    17. “Hidup adl perjuangan” katanya 😀

      Oh, kirain lagi bahas ane,
      Apalgi bapak kos sebelah, kehidupannya gk bisa dibahas pake logika semata 😀

      Like

    18. Ya dalam semua hal, krn hidup trdiri dri berbagai macam cerita dan kisah
      Bijak x ya komen ane 😎

      Nah makanya 😀

      Like

  4. Kmaren, Banyak Pemain Juve Yang Bermain Dibawah Performa Terbaiknya. Cuma Alves Doang Yang Tetep Gahar. Sedangkan Kita Semua Tahu Kalo Lawan Madrid Dan Tidak Dalam Perfoma Terbaik Maka Siap2 Dibombardir Sama Kakak Ane CR7 Dan Kawan2. Pada Pertandingan Kmaren, Semua Pemain Madrid Maennya Gahar Terutama Casemiro, Isco (Babak Ke-2), Carvajal Dan Tentu Saja Kakak Ane. 🙂

    Jujur Ane Kasian Sama Buffon. Dalam Hati Kecil Pengen Rasanya Tahun Depan Doi Bisa Dapet Trophy Champions Sebelum Pensiun. Tapi Sayangnya Trophy Champions Tahun Depan Bakal Jadi Milik Chelsea. Keep The Blue Flag Flying High 😎

    Like

    1. Harus diakui kemarin Juve underperformed, terutama di babak kedua. Yah, bukan giliran emang (untuk yang ketujuh kali)

      Ciah, awalnya kirain Madridista, ternyata Blues toh 😀

      Like

    2. Kmaren Yang Paling Mengecewakan Ya Penampilannya Dybala Dan Tentu Saja Ex-Chelsea Cuadrado.

      Ane Udah The Blues Struktural Gan. Semua Anggota Keluarga Ane Fans Chelsea Gan 😀

      Like

    3. Itu sih udah gak perlu didebatkan lagi deh…

      Ane pernah jadi Blues, tapi kebiasaan edan Roman Abramovich bikin lama2 bikin males soalnya ngaruh ke performa naik turun.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s