The Pride

Sebelumnya, aku akan memberi peringatan kalau artikel kali ini mengandung unsur yang akan sedikit offensive bagi sebagian. Yah, dari judulnya saja sudah kelihatan bukan? Well, kalau belum paham, aku akan mengingatkan sekali lagi, topik kali ini lebih berat dari biasanya dan akan sulit diterima jika tidak membacanya dengan pikiran terbukaIt’s your choice.

Lanjut. Terms untuk Pride sebenarnya memang ambigu, karena secara kontekstual, ini mengacu pada kebanggaan, sebagai kata sifat. Then being one of the Seven Deadly Sins. Lalu ketiga, menjadi singkatan untuk gerakan-gerakan kelompok tertentu di dunia ini. Ada Black Pride, biasa juga disebut sebagai Black Power, gerakan untuk menentang rasisme pada kaum kulit hitam.

Kelompok ini memperjuangkan hak kulit hitam sejak hampir seratus tahun terakhir. Meski tidak bisa dihubungkan langsung, Malcolm X, Martin Luther King, Stokely Carmichael, bahkan godfather of soul, James Brown membawakan lagu berjudul Say it Loud – I’m Black and I’m Proud. Black Power secara langsung berhadapan dengan White Pride.

Yang ini jelas kebalikan dari Black Power, mereka mengagungkan supremasi kaum kulit putih. Sudah pernah kutulis sedikit dalam artikel Donald Trump sebelumnya, gerakan White Pride juga mencakup kelompok ekstrim seperti Neo-Nazi dan Ku Klux Klan. Dua gerakan ini clash dan mungkin tidak akan pernah ada akhirnya.

And I won’t sided with any, ’cause it wasn’t even my own race.

Gerakan Pride ketiga, nah ini dia, adalah Gay Pride atau LGBT PrideNow I supposed y’all know this, except you’re livin under the rock for decades. Ya, gerakan untuk mendukung kaum LGBT atas diskriminasi yang mereka terima. Gerakan ini dimulai sekitar periode 50’an, salah satu saat paling represif bagi LGBT di USA. No wonder, tiga gerakan ini semua berasal dari States.

Saat itu kaum LGBT dipandang sebagai penyakitan, seperti yang umum dipandang di negara-negara “konservatif” sampai sekarang. And to me, it’s a shame, because all humans are equal. Homosexuality have existed since the beginning of time itself. Bukalah wikipedia setidaknya, lihat sejarah akan homosexuality, ada di seluruh belahan bumi, dari Yunani kuno, Mesir, India, Amerika Selatan, Afrika, you name it.

Dalam agama, bagi tiga agama Samawi tentu tahu tentang kisah Nabi Luth dan kaum Sodom. Dalam agama Hindu, di negeri asalnya dianggap sebagai subyek yang tidak tabu, begitu juga dengan agama Budha yang memiliki banyak kisah tentang ini. Kembali ke topik utama sebelum ini menjadi terlalu religius dan membuatku bisa dituntut ke meja hijau.

Hari ini, di negara-negara yang belum melegalkan same sex marriage, masih ada yang berpikiran kalau mendengar kata homosexuality berarti cacat mental, disaat ini adalah hal yang salah. Jika memang cacat mental, tidak akan ada kisah Shah dan Sultan dari Timur Tengah yang memiliki male companion -disini tidak ada keterangan apakah memang gay atau bukan, mengingat bahasa dan penafsiran adalah hal yang kompleks-

After all, this is complicated. Karena memang agama dan sains memang kadang bisa saling membantu, dan kadang bisa clash. Aku tidak akan membahas dari sisi agamanya, dan lebih pada sisi humanis. Imagine yourself in their shoes, confined in their own self because of “laws” and “religion” can’t be happy eventhough they’re also human like the non-LGBT people.


Di awal Millenium, Belanda menjadi negara pertama yang melegalkan same sex marriage. Langkah ini diikuti oleh banyak negara setelahnya. Setelah US melegalkan ini di 50 negara bagian pada 2015, maka sudah bisa dipastikan langkah ini akan diikuti banyak negara lain.

Di pertengahan tahun ini, Taiwan menjadi negara Asia pertama, meski hukum baru akan berlaku pada 2019 jika disetujui. Sementara Australia akan membuatnya menjadi hadiah natal tahun 2017 ini. Dari kacamata pribadiku, aku abstain akan hal ini, karena ini adalah hal kompleks.

Dari pertama, aku tidak menentang LGBT sama sekali, karena ini sesuatu yang natural bahkan sejak sebelum agama masuk ke dunia. And FYI, aku bukan penganut Darwinisme, in case you may ask. Dan banyaknya pengakuan akan LGBT membuatku seperti “selamat, kau mendapat kemudahan dalam hidup. Every man for himself.

Tapi, seiring banyaknya negara yang melegalkan, ada juga perasaan cemas. Bukan apa-apa, karena ini menyangkut tentang idol kita. Bingung? Nah, ini dia topik yang ingin kuangkat kali ini, setelah melihat Nogizaka Kojichuu minggu lalu dan minggu ini, sebenarnya sudah ada pikiran sejak lama. Tapi karena ini topik yang cukup berat, maka aku kesusahan untuk benar-benar menulisnya.

Mengesampingkan bahwa aku tidak benar-benar percaya ada idol yang hopeless dalam urusan asmara seperti yang digambarkan di Kojichuu, tapi ini untuk lain waktu. Dalam konteks ini, yah jelas kan apa yang kumaksud. Image tentang Girl’s love itu memang terlihat kawaii, jika dilakukan oleh anak yang belum berusia 18 tahun. Diatas itu, well, rasanya ada yang salah.

Girl’s love, atau apapun itu, sesuatu yang ampuh untuk dijadikan bahan jualan bagi idol. Katakan saja tentang my wife, Yumi dan Reika yang selalu dilihat sebagai lesbo di grup. Well, ini karena orang-orang di sekeliling mereka yang membuat seolah seperti itu, dan karena aku tidak menganggap LGBT semata dikarenakan lingkungan, afeksi WakaRei memang sedikit over.

The truth maybe will never be known, likely to the straight’s one story. Personally, I’d like to not think so much about this, but suddenly I do think I have to. Jika, dan hanya jika, situasi membuat mereka -dalam hal ini, para member- menjadi gay, siapa yang harus disalahkan?

Aku akan menjawab tidak ada, karena dewasa ini, dimana hanya dalam hitungan detik kita bisa tahu apa yang terjadi di belahan dunia lain, dunia dimana filter informasi hanya ada di negara Kim Jong Number Un, semua hal kembali pada individu itu sendiri bukan? After all, life is a matter of choices.

Menyalahkan member yang menjadi gay karena situasi bagiku bukan pilihan baik. Dan sekali lagi, hal ini bersifat natural. Bagi yang berminat melihat lebih jauh tentang gender dan permasalahan LGBT, mungkin bisa mengecek ini. National Geographic mengangkatnya khusus dalam edisi bulan Januari kemarin.


Well, dalam pandanganku, di tahun 20’an mendatang, Jepang pun akan melegalkan same-sex marriage, dan ini akan membuat shifting di dunia entertainment. Banyak yang akan all-out begitu muncul kabar kalau Parlemen akan mempertimbangkan hal ini.

And that means, mungkin saja, kalau Sakamichi masih bertahan dengan member yang kita kenal sekarang ini, akan ikut dalam aturan baru. Ini cuma berandai-andai, sejauh ini, jadi jangan terlalu serius atau juga sekedar menganggapnya angin lalu. Aku ingin mendengar komentar jujur seperti anak-anak ini.

At last, apa yang ingin kukatakan dari artikel kali ini adalah, di zaman yang lebih terbuka meski dengan sedikit sekali netralitas ini -well, aku tidak akan membahas soal agama- aku tidak menganggap LGBT sebagai gangguan sama sekali. Berpikir terbuka akan lebih baik.

Bahkan film kelas C tentang alien dari tahun 60’an pun memiliki konsepsi yang lebih baik tentang kesamarataan; tidak ada perdebatan konyol hanya karena sedikit perbedaan. Bagaimana jika idol kita gay? Well, kembali ke mana yang kau pilih, kepura-puraan demi fantasi atau idol yang outspoken? 

Dan bagaimana dengan pendapatmu mengenai LGBT? Share your thoughts.

All images used is credited to it’s respective owners

Advertisements

130 Comments

  1. Seven deadly sins, mengingatkan ane pada filmnya brad pitt yg ane suka banget. 😀 Dan juga salah satu manga, Nanatsu no Taizai. 😀
    my wife, Yumi, ketauan pasti. 😆

    Soal homoseksual, yg ane ga suka pahamnya, karena itu, ane ga menganut paham ini. 😀 Prinsip hidup ane, QS Al-Kafirun ayat 6, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Jadi, silakan aja, ane ga ikutan. 😀

    Kalo ada member Nogi lesbi, pendirian ane tetep, ane cuma ga suka pahamnya, bukan orangnya. Jadi, tetep ane nikmatilah, Noginya. Itung2 ada yg bisa buat tontonan dan diilerin. 😀

    Like

    1. Paham menyukai sesama jenis. Ane ga suka paham ini, jadi ane ga ngikutin. Ane sukanya paham menyukai cewek. Jadi, ini paham yg ane anut. 😀

      Bayangin aja, Junna ❤ dan Ume ❤ , Kubo ❤ dan Zukki, Nyaa dan Hori, Maiyan dan Sayunyan, aaahhh…bisa kehabisan darah ane. 😍😍😍

      Like

  2. Waduh, soal ini toh, kirain Pride apaan 😀
    Ane bisa lihat ada kalimat “itu-tunya”
    *bukti aja klo ane baca tulisan, gk kyk yg ente tuduhkan 😀

    Balik ke topik, klo pun ada member Sakamichi yg bener “bgtuan”, klo scra prinsip agama yg ane anut, pastinya ane sangat menyayangkan,
    tapi…
    dri segi ngidol n cari media hiburan, tetep ikutin sbg sebuah grup dan member tersebut sbg bagian dri grup itu sndiri. Mau koar2 jg gak akan tersamapaikan ke mereka 😀
    Tetep dinikmati musik dan entertainnya, bukan urusan khidupan pribadi, apalgi klo hal itu gk sesuai dgn prinsip ane, ya disingkirkan/ditepikan saja 😀

    Klo kata artis negeri sberang, “Apabila masih ada manfaat kebaikan yang bisa diambil dariku, maka ambilah. Jika tidak, maka tinggalkanlah.”
    *Ane lebih khawatir ane jd korban media informasi favorit emak2 TT

    Berhubung maish ada manfaat (Musik dan hiburannya), yaa. lanjutkan! 😀
    .
    .
    .
    .
    .
    Mungkin 🙂

    Like

    1. Kaya di kalimat pembuka; “Now I supposed y’all know this, except you’re livin under the rock for decades.” jadi fix ente hidup dibawah batu 😀
      “itu-itu” apaan? 😀

      Ini kan dari segi agamanya, dari sisi humanisnya? Ada pendapat?

      Artis negeri seberang yang mana lagi ini 😀

      Jadi ente bakal tetep lanjut, in case masalah ini kebuka ke publik?

      Like

    2. Ya man tau, ane taunya cuma kata “love” 😀
      ““itu-itu” apaan?” <- saran dari gan Mas kemarin 😀

      Duh pertanyaan ente mancing ane ceramah nih, gk usah ane jawab lah 😀

      Gak gaul ente, tpis pergaulan setipis kulit bawang, copas aja kaliamt komen ane itu di google, ntar pasti tau deh sapa artis ngeri sberang itu 😀

      Slama lagu2 mreka masih cocok dikuping, mungkin 🙂

      Like

    3. “love” doang paham 😀
      Oh, oke 😀

      Cuma tanya, ini forum bebas juga 😀

      Oh ternyata itu, ane singgung juga tuh di komen bawah 😀

      Selama bini belum grad kali? 😀

      Like

    4. Yah ane kan penuh “love” 😀
      Susah ya klo dah tua, lama 😀

      Intinya meski ane bukan org yg religius amat2 (masih jauh diri ini dari hal itu) tpi karena ane percaya ajaran agama yg ane anut utk kebaikan, jadi dari sesi humanis pun bgtulah 😀

      Dasar buakn anak zaman now, jd gk langsung nagkap sama2 hal2 baru 😀

      Hahahahaha, paham juga ente akhirnya 😀

      Like

    5. Million Love? 😀
      Ente ngomong “itu-itu”, ya siapa yang paham 😀

      Against kah?

      Ya ane bukan generasi micin pecinta tv kaya ente 😀

      Tae, bilang aja mau nulis tapi gak jadi biar keliatan serius 😀

      Like

    6. Dets Raiiiig 😀
      Ya masak ane tulis terang2an, ane tulis pake bhsa Aoko ntar ente lebih gk paham 😀

      Ya, bisa dibilang bgitulah 😀
      Apapun alsannya, humanis, perasan, cinta, kebebasan, dll, tetep ane yakin klo agama dah berpendapat soal ini bgtu, maka itu yg terbaik untuk diikuti 🙂

      Alasan aja, blang aja emng gk ada tipi 😀

      Nah, paham lagi ente 😀

      Like

    7. Apa kabar sekarang, Under Album? 😀

      Siap deh, gak nyangka kata2 ini bisa keluar dari orang yang sehari2 konsumsinya garamicin 😀

      Karena nonton tipi lokal sejam efeknya sama kaya makan micin satu gentong 😀

      Kalau bini mesra2an sama cowok lain? 😀

      Like

    8. Apaan tiba2 ke Album Under??

      Ah, itu komen hasil googling itu 😀
      PUAS?!

      Tp kadang liat “drama panggung” tipi lokal malah kyk nonton kompetisi lawak loh 😀

      Ente bhas apasih? diatas tiba2 bhas album under, skrng ngelawak? hadeh bikin ketawa aja

      Like

    9. Million Love gimana, jadi center gak? 😀

      Belum 😀

      Kaya papah? 😀

      Cie mengalihkan pembicaraan 😀
      Atau emang gak sadar arah pembicaraan? 😀

      Like

    10. Segalanya akan indah pada waktunya, cuma bisa komen seperti itu ane 😎

      Brhrap ente puas sma aja kyk brhrap lord KTK khilngan kkutannya, gk mungkin 😀

      Iya, papah bserta pngacara2nya 😀

      Gak sadar n gak mau sadar sma arah pmbicraan yg ente buat 😀

      Like

    11. KAn dah dijawab, akan indah pada waktunya, jd jgn tnya kapannya dong 😀

      @#$%^&*()_

      Aktor2 favorit ane itu , akting mreka luar biasa 😀

      Mending bnyakin garamicin ktimbng terpancing arah pmbicraan ente 😎

      Like

    12. Trus siapa yang tahu soal kapannya ini? Jangan bilang Lord lagi 😀

      Oh udah alih profesi jadi aktor mereka? 😀

      Panas panas panas panas….
      Pait pait pait pait 😀

      Like

    13. Nah, hal selanjutnya yg harus ente pahmai adal, salh satu misteri khidupan adl waktu, jadi biarkan semua indah pada waktu yg misteri ini 😀

      Loh, blum tau? tipis sekali pergaulan ente, setipis kulit bawang 😀

      Nah kan, hadehhh

      Like

    14. Sapa yg bisa jawab klo pertanyaannya soal misteri waktu 😀

      Belanja 1 M tpi gk bisa dinikmati buat apa? 😀

      Nanya lagi

      Like

    15. Huh, kmarin aja klo ane bwa2 lord ente langusng curiga, skrng ente ngakuin sndiri 😀

      Ngertiin kamu 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀

      Tau ah gelap

      Like

    16. Kalau ente kan konteksnya dipertanyakan, kalau ane kan pengabdi Lord 😀

      Belum pernah ditampar parutan? 😀

      Kok sensi? Kan doi lagi dapet job 😀

      Like

    17. Bisa aja berkilahnya 😀

      Ente udah pernah ditampar pake parutan? pasti waktu Yumi ngambek ke ente kan? 😀

      Sensinya ke ente TT

      Like

  3. wiih, sebenernya ini sih agak berat dan gue pun nggak mau ikut campur urusan mereka karena itulah mereka (dalam hal ini LGBT), tapi setidaknya mereka tidak terlalu sering menampakkan “kemesran” mereka di khalayak publik karena beberapa (termasuk gue juga) agak risih dan jijik.

    selama mereka tidak berbuat onar dan memaksa orang lain yang masih suka dengan lawan jenis untuk suka dengan sesama jenis, gue sih fine-fine aja

    untuk wakarei sendiri sih, w sebenernya suka dulu ketika ngeliat mereka terlihat sangat akrab (w marathon nogibingo 1 ampe nogibingo 6 waktu itu), entah terlepas itu adalah akting di acara tersebut ataupen mereka benar2 “lesbi” sih, fine-fine aja. malah seneng karena mereka berdua akrab satu sama lain.
    itu doang sih comment gue hehehe

    Like

    1. Kalau dari pengalaman ane, karena ane ada beberapa kenalan, mereka yang gay itu cenderung lebih pendiem sih gan. Lebih introvert, biasanya karena ada tekanan dari lingkungan. Jadi ya jarang ane liat mereka yang over di tempat umum.

      Kalau Wakarei statusnya emang dipertanyakan.

      Like

  4. Aww 😀 dedeknya unyuk 😀
    Kirain mau diisi video in a heartbeat 😀

    Karena ane bukan dari golongan anti lgbt dan gaada hubungannya sama agama ane
    jadi ya terserah mereka dong, orang mereka juga yg punya jalan hidup 😀

    Tapi agak aneh juga si ngeliat di sosmed, tv dll yg nganggep lgbt tu kayak “penyakit” yang bisa nular dan bisa “disembuhin”
    Klo indo kayaknya sampe kapanpun gabakal ngelegalin lgbt marriage 😀

    Uda segitu aja 😀 klo mau bahas lebih dalem entar saya kena krisis eksistensi 😀

    Like

    1. In a heartbeat? Ane liat komennya lebih ngena yang video ini sih daripada pas “react to in a heartbeat” 😀

      Jadi intinya stay away ya? 😀

      Itu karena sex education yang kurang, sama terlalu sok2an religius sih. Ane liat sama kaya Eropa abad pertengahan, agama mutlak tapi gak ngasih solusi yang oke. Legal soal same sex marriage? Artis (?) lepas jilbab aja jadi berita yang worth it banget kayanya.

      Krisis eksistensi sebagai serigala? 😀

      Like

    2. iya stay away, tapi stay away dari tv dan komen orang orang “religius” 😀

      iyaa Indo keliatan sekali kurang sex ed
      baru bahas uda pada malu2 😀 mungkin efek budaya “timur”

      ane bukan serigala si ya….. 😀 gaksih? 😀

      Like

    3. iya artis lepas hijab aja pada heboh 😀 truly indonesian 😀
      tapi ane gamau bahas agama mayoritas deh 😀 sebagai minoritas harus diam 😀 sebelum dinyinyirin 😀

      Like

    4. Stay away dari TV itu cara paling gampang menyelamatkan intelegensi 😀

      Kalau udah bahas sex edu, larinya malah ke bokep, atau dikira ngajarin gak bener. Bukan karena budaya timurnya sih, emang bego aja 😀

      Ane liat ente ber-DNA serigala yang kuat 😀

      Semakin mayoritas malah makin banyak yang keliatan nyemilin micin.

      Like

  5. Ane sih asyik aja, as long as they not rubbing it on my face. Ane bukan antis maupun pro jg sih.
    Jauh bgt contohnya gan,lokal jg bnyak lho slah satunya warok di jatim dan bisu di sulawesi. Dan anehnya kedudukan sosialnya jg ckup dhormati.
    Yah berkat taiwan dan thailand asupan yuri ane blom prnah kekurangan. 😀
    Trutama thailand,at least hmpir tiap drama ada unsur lgbtnya dan blom prnah tuh ane denger heboh2 soal itu tp herannya same sex marriage blom sah.
    Ok balik ke idol, klo g ada bumbu itu g asyik gan. Inget kan keyakake bikin heboh internet pas bahas hubungan special mmber.
    Idol itu sma kayak all girl school, klo agan prnah msuk sekolah yg gendernya homogen pasti paham.
    Di all girl school slingg sentuh bagian tubuh trtentu itu hal biasa apalagi cuma cium2 lucu. Hnya buat have fun aja sbagian org sih bilangnya platonic relationship?
    Trakhir smoga wakarei dpet drama dg tema yuri, AMIIIINNNNNN 😀

    Like

    1. Nah, kalau yang adat2 begitu karena gak dicover media nasional aja kan, coba ada. Demo pasti. 😀

      Kalau di Thai, ane rasa secara general udah diterima. Kan ladyboy pun gak dibolehin ganti status genital, cuma fisiknya doang berubah. Wamil aja masih harus ikutan kok 😀

      Ane gak pernah ngerasain sekolah homogen, tapi pernah ngerasain kelas yang hampir homogen 😀
      Dan ya, ane gak heran karena kalau homogen, becandanya kelewat batas 😀

      Like

  6. IMHO

    i dont care about LGBT, “”even if”” everyone around me like that.
    yaa kaga ada masalah yg ditimbulkan jg, atau kerugian karena hal itu,

    life is about choice, and about the way you see it

    wkwkwk satu-satu nya negara yg di pakein FILTER cuman si kim jong number un

    ^
    tapi pendapat g diatas, ya karena mereka org lain yang engga gua kenal makanya g kaga peduli
    BUT
    BUT
    BUT

    kalo nogi yg lakuin lgbt, satu hal yg bakal g pikirin, ‘WHY??’.

    is there no one out there that make you interest to them?

    tapi gmn pun ceritanya bila mereka yg gua LIHAT, KENAL, dan coba mengetahui tentang mereka (gak hanya nogi) lakuin lgbt,
    well g biasa” aja, cuman ya itu…
    do you really fine with your choice? is it what you want?

    dan apapun jawaban nya
    pikiran , perasan gua akan mereka ENGGA bakal berubah 🙂

    life is great man, karena banyak banget varian di dunia ini 😀

    Like

    1. Yah, kaya yang udah dijelasin di beberapa komen juga, keadaan bisa jadi faktor yang menentukan, selain karena nature. Dari umur belasan masuk ke lingkungan yang hampir all-girls loh.

      Hidup kan pilihan, manusianya sendiri kompleks, jadi yah, gak semua hal bisa enak 100 atau seenggaknya 80% sekalipun kan.

      Like

    2. iya gan 🙂 bener bgt

      mereka yg masuk nogi di atas umur 18 taon…
      lalu gmn kyk minami , renka
      atau yg bisa kita bilang mereka yg masuk nogi di umur belom ada 14 taon
      kita bakal bilang,,, masih bocah bgt hahaha. Masuk ke lingkungan yg semuanya cewek, dan kalopun cowo. itu adalah para staff atau senior dalam dunia entertainment …

      Gak heran sih….

      Like

    3. Biarpun masih ada sekolah, ane rasa itu udah gak terlalu relevan karena waktu mereka lebih banyak di entertainment. Yah, ane sendiri gak nganggep gak ada cowok di sekitar mereka.

      Hidup gak cuma hitam & putih, selalu ada abu2nya.

      Like

  7. pembahasan seperti ini membuat saya muncul setelah hampir setahun sebagai silent reader, hoho.

    sebagai seorang yang mendukung hak LGBT atas diskriminasi masyarakat ke mereka, saya sangat senang akhirnya post seperti ini ada apalagi berhubungan dengan Nogi.

    Saya sedikit yakin bahwa ada member nogi yang belok. Kenapa? Perasaan ‘itu’ bersifat natural, seperti yang mac bilang. Apalagi dengan lingkungan Renai Kinshi Jourei dengan lawan jenis. Kalau bener-bener ada, dukung aja sih, saya yakin mereka nggak bakal berlebihan juga.

    Kalau LGBT sih, yah di indonesia masih banyak yang anti. Menganggap sebagai ‘penyakit’ yang harus disembuhkan dan dianggap mereka memilih sendiri untuk menjadi gay/lesbi (saya jadi ingat, guru agama saya, yakin sekali dengan ini). 🙂

    ini panjang bat, etdah.

    Like

    1. Wah aktivis ternyata, thanks udah mau komen 😀

      Yah, emang gak bagus berpikir terlalu jauh, tapi ane kok gak bisa menghilangkan perasaan pengen up artikel ini sih 😀

      Kaya yang ane bilang, ane prefer gak mencampuradukkan agama sama hal2 semacam ini, karena jelas ujung2nya bakal kemana. Dan ane pribadi juga gak akan mengkategorikan diri sebagai “sangat religius” 😀

      Like

  8. Maaf sebelumnya, ane orang baru, jadi mohon bantuannya
    Seperti yang ane tangkap, lgbt atau apalah itu, sudah ada sejak agama datang ke bumi ini, dan temen ane pernah cerita, kalau “pernikahan sesama jenis” bukan disebabkan oleh kelainan, tapi kita mengenal yg namanya bahasa cinta yang universal, semua orang tau, dan itu mudah dimengerti, tapi untuk kasus sesama jenis, mereka merasakan sebuah “kenyamanan” diantara mereka, bahkan orang normalpun, bila memiliki sahabat yang sangat dekat, ya kushusnya wanita, pasti dalam benak mereka, pasti pernah terbesit untuk saling menjaga atau bahkan memiliki, dan kirinya itu bisa terjadi diantara para member, dan saling memiliki ini bukan harus berarti “orientasi seksual” mereka berubah

    Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang, apakah topik perbudakan ataupun eksploitasi seksual secara halus (baca, gravure) masih layak untuk dibicarakan disini ??

    Like

    1. Kalau mau dibilang, itu juga bisa. Ane gak akan bilang semua, tapi segelintir orang gay di negara yang relatif lebih “terbelakang” untuk urusan kaya gini, biasanya yang jadi alasan utama. Kalau orientasi, ini butuh waktu lama buat dimengerti.

      Hmm, kalau bicara gravure, harus ngebicarain gimana publik nerima hal ini, cakupannya banyak jadi ane belum bisa komen.

      Like

    2. Dan akan menjadi kombinasi yang sempurna, bila Film Brokeback Mountain original sound tracknya “Kinjirareta Futari”

      Dapat diartikan bahwa faktor “terbelakang” juga bisa mempengaruhi keadaan

      Untuk masalah Gravure, apakah member mempunyai “hak” untuk menolaknya, atau justru pikiran mereka lebih terbuka akan hal tersebut

      Like

    3. Ciah brokeback mountain, film yang bikin trauma 😀

      Hmmm, ane no comment deh 😀

      Kalau ane bilang sih lebih terbuka, culture di sana kan emang begitu.

      Like

    4. Kenapa harus trauma, sedangkan film itu hanya karangan fiksi, dan genrenya pun neo-western romantic drama, dan menang award juga, itupun tidak satu atau dua piala

      Gini aja, apa yang abang mac resahkan tentang LGBT ini sehingga bisa dikaitkan dengan sebuah idol group, setidaknya sebuah karya tulis, memiliki keresahan tersendiri

      Hmm, bagaimana bilangnya ya, setidaknya memiliki power to fight that, seperti lagunya keyaki

      Like

    5. Gimana ya, waktu pertama liat ngerubah persepsi ane sama dunia cowboy sih 😀
      Tapi juga sekaligus ngebuka mata sih 😀

      Sejujurnya, gak ada yang ane resahkan. Kalau mau disingkat, Shit Happens. Silakan artikan sendiri, karena konteksnya luas.

      Pada dasarnya, kalau semua sisi gelap atau abu2nya dunia idol dibuka, industri ini bakal mati.

      Like

    6. Itu bukan fakta yang sebenarnya, sehingga ada istilah, apa yang anda lihat, belum itu fakta sebenarnya, sehingga, dalam hukum ada asa praduga tak bersalah, walaupun ada bukti dan saksi yang melihat kejahatannya

      Justru, yang bang Mac tidak sadari, Shit Happend itu sendiri yang menjadi keresahannya

      Yah, disini saja, beda daerah saja sudah beda culture, apa lagi negeri yang di seberang lautan

      Dan yang terakhir, LGBT bukan takdir tapi sebuah nasib, bisa dirubah, karena suatu hal, sama seperti yang terjadi terhadap Bang Mac, setelah menonton film tersebut, cara pandang koboy Bang Mac berubah, walaupun tidak tau apa fakta yang sebenernya terhadap objek tersebut (dalam kasus LGBT, objeknya lawan jenis)

      Like

    7. Emang bukan, dan sejujurnya ane jadi berpikir lebih terbuka.

      Shit happens, dalam banyak arti, yah, ane gak akan menjabarkan lebih jauh 🙂

      Yep, bukan takdir tapi nasib. Tapi juga inget kan, semua orang itu bisa nulis takdir mereka sendiri 😀

      Like

    8. Apakah itu titik baliknya atau ada hal lain

      Coba kita balik, ada good happens apakah itu juga akan tetap menjadi faktor pendukung

      Ya ndak semua bisa nulisnya dengan baik, dan mau dengan serius nulisnya dengan baik, padahal ada kesempatan yang baik, kebanyakan secara tidak sengaja mereka menulisnya ke hal yang lebih buruk, karena kelalaian mereka

      Like

    9. Kalau faktor yang lain pasti lebih berpengaruh

      Ya, adanya kejujuran dari member, mengenai masalah yang mereka hadapi, contoh waktu pengakuan Hirate pas diinterview sebuah majalah mengenai perasaanya pada saat tour
      Masih banyak lagi sih, seperti bisa menciptakan adanya movement, merubah cara pandang terhadap idol, dan lain sebagainya

      Bukan hanya individu, lingkungan bisa berpengaruh, seekor domba bisa menjadi serigala kalau dibesarkan di lingkungan serigala

      Like

    10. Kalau soal kejujuran, balik lagi, ini topik yang masih tabu kecuali entar ada omongan kalau UU bakal naik ke parlemen. Sekarang sih gak mungkin seorang idol bisa terang2an soal orientasi seksual.

      Like

    11. Ya, secara umum idol memang diidolkan karena paras dan prilakunya, dan kita ndak tau pasti bagaimana landasan mereka dalam ngidol, antara hobby atau pelarian semata, yah, kalau mereka berani dalam mengatakan fakta sebenarnya, ya, kemungkin akan kehilangan sebagian penggemar yang mengharapkan mereka dan percayalah akan ada yang bertahan, karena keterbukaan pikiran mereka

      Like

    12. Yg saya tahu idol yg udah terang2an itu si Moga Mogami mantan Dempagumi.inc yg dah ngaku,kalau dia bisek😀

      Like

  9. Tanpa mencampur adukan urusan agama, ane tetep risih sama yg beginian. 🙂 okelah kalau cuma gimmick atau sekedar “dekat”. Tapi kalau sampe serius ane hanya “menyayangkan” aja, mereka cantik, popular, banyak yg suka kenapa harus suka dgn sesama jenis.
    Tapi lagi lagi itu pilihan & hak mereka, selama ga melanggar aturan disana sih bebas, toh ane bukan siapa siapanya 🙂

    Like

    1. I won’t say it’s homophobic, karena emang masih banyak yang berpikiran kaya gini. Cultural differences jelas punya andil besar sih 😀

      Ane cuma bakal bilang, ane gak akan mencampuraduk urusan sensitif agama kaya gini sama pandangan ane soal humanisme. 😀

      Like

  10. Berat ini,krn mau gak mau pasti bersangkutan sama agama yg saya anut..

    Kl secara pribadi,saya suka Yuri2an,tp hanya skdr dalam hiburan,bkn kehidupan nyata..saya termasuk yg gak mendukung LGBT,krn bagaimanapun saya gak bisa mengesampingkan ajaran dan perintah agama saya(walaupun ada yg bilang saya ninja mesum)(saya juga gak merasa paling religius),juga denger dr para pakar kesehatan kata’y bahaya,bisa menimbulkan penyakit menular,dan juga bisa mengurangi populasi manusia..

    Sebenar’y saya juga punya temen yg lesbi dan gay,kalau dengar cerita mereka tentang alasan mereka knp jd begitu yg padahal awal’y mereka normal,sejauh ini yg saya dapati alasan’y adalah mereka terlalu sering sakit hati oleh pasangan normal mereka,dan mereka belok krn mereka lebih merasa nyaman dan disayangi,serta dihargai oleh pasangan sesama jenis’y,yg awal’y hanyalah teman curhat..
    Saya gak merasa terganggu dgn mereka,asal mereka gak mesra2an di depan saya..kl mereka mesra2 di depan saya,ya saya pergi krn saya (maaf) jijik lihat yg begituan,terlebih yg Gay😊

    Like

    1. Ninja mesum ternyata religius juga 😀

      Sering sakit hati bisa jadi alasan kuat sih. Well, kaya film The Handmaiden juga. Udah nonton?
      Kalau dari pengalaman ane, yang udah lama gay biasanya lebih tertutup, gak mesra2an karena sadar bakal dibully. Well ini juga tergantung sama pribadi orangnya sih…

      Like

    2. Harus seimbang min hidup mh😊

      Kl yg saya kenal sih,kebanyakan krn sakit hati,tp ada satu yg bisek,alasan’y krn duit..sama psngn gay’y ngeruk duit,hasil ngeruk dpke buat menjalin hubungan sama wanita..pnts itu tmn yg satu bnyk duit mulu😀

      Ya kl ddpn orang bnyk gak mesra2an,tp kl lg sama tmn2 dkt kdng suka mesra2an..

      Like

    3. Itu para pekerja paksa juga harus dikasih gizi seimbang, jangan cuma garam 😀

      BUkti kalau manusia itu komplek bukan cuma hitam & putih 😀

      Nah, kembali lagi, pribadi masing2 sih 😀

      Like

    4. Jgn samain saya sama detektif mesum yg cuma bisa ngasih garam lah😒

      Kompleks,seperti saya sama Ashu..kompleks(?)😀

      Like

    5. Curhat nie?😀
      Kl saya mh cuma bisa ngasih kasih sayang dan kebahagian😀

      Tuh kan lagi2 dibilang serigala😒

      Like

    6. Mimin yg ngeles,gaya’y dah kyk detektif cilik yg itu 😀

      Kenyataan dari hongkong😒

      Like

    7. Jgn sebut2 tua,nanti kena batu’y lho😀

      Di konoha kan gak ada serigala,jd aman..makan’y min segera ungsikan Ashu ke konoha,biar jauh dr serigala😀

      Like

    8. Pengalaman yg di alami mimin😀

      Bukan,saya penjinak serigala..kl butuh jasa buat jinakin serigala,silahkan hubungi no yg ada dipojok kanan atas😀

      Like

    9. Ngeles aja😏

      Ada pribahasa “kl mau berantas kejahatan,kita harus masuk ke dunia itu dl”..begitu pula,kl mau brantas serigala,ya kita jd serigala,buat kamuflase😀

      Like

    10. Diajakin ketempat yg bisa bebas mengekspresikan diri gak mau😀
      Kan saya bisa pake jurus penyamaran,jd gak akan ketemu wujud asli dibalik topeng saya ini😀

      Like

  11. setelah sekian lama menjadi seorang silent reader, akhirnya muncul juga kepermukaan setelah ada pembahasan seperti ini…

    kalau saya pribadi tidak mempermasalahkan lgbt, walaupun di agama saya sendiri melarang lgbt. karena saya punya prinsip dimana semua manusia memiliki hak dan kedudukan yg sama, ntah dia homoseksual ataupun tidak. karena kalau boleh jujur saya bukan tipe orang yg ‘religius’, jadi selama lgbt tidak merugikan saya, saya sih sah2 aja kalau suatu saat di indonesia di perbolehkan pernikahan sesama jenis.

    balik ke topik nogi, kalaupun suatu saat ada member nogi yg lgbt, kembali ke komen saya sebelumnya. saya sih gk masalah, yg penting mereka masih bisa menghasilkan musik yg bagus dan menarik untuk saya nikmati.

    SEKIAN DAN TERIMA KASIH 🙂

    Liked by 1 person

    1. Well, it’s nice to see someone who didn’t mind them 😀

      Kalau di Indonesia, ane sama sekali gak yakin gan bakal kejadian 😀

      All Hail Sakamichi 😀

      Like

    2. ia saya gk masalah gan, karena saya bukan tipe orang yg mencampuri masalah kemanusiaan dan agama, karena kalau dilihat dari sisi agama gk akan ada habisnya pembicaraan yg kayak ginian. karena saya juga yakin kok kalau mereka ada disekitar kita gk bakal ngebuat kita ikut2an jadi gay/lesbi kyk mereka. yg penting yg kyk saya bilang sebelumnya, selama mereka gk mengganggu kita, knp ngak?

      kalau di indonesia saya juga yakin sih gk bakal terjadi

      All Hail Sakamichi 🙂

      Like

  12. Hmm… Ini menyangkut perang, yg pergi berperang dan di tinggalkan berperang. Ribuan tahun sejarah manusia pasti di tandai oleh perang yg isinya kaum laki2 dan yg ditinggal berperang pasti kaum wanita, mereka juga manusia yg punya nafsu dan terbawa menjadi kebiasaan. Perang modern lebih cepat dalam mobilisasi pasukan jd pasukan tidak stuck dalam satu tempat, yg terjadi adalah pemerkosaan dan wanita korban perang yg dijadikan sebagai pemuas.
    Saya berpikiran simple dan traditional. Saya menginginkan keturunan jd Saya harus mendapatkan dgn wanita yg saya cintai (half me and half her).
    Masalah Girls love di dunia idol… Well it’s entertainment world, fan service is number one.
    Jepang dalam 20 tahun kedepan melegalkan LGBT, ane ragu mengingat angka kelahiran turun drastis.

    Like

    1. Di militer sih, gay juga ada. Dan mereka yang biasanya paling tertutup soal orientasi karena lingkungan yang lebih keras. Ane baca2 di forum.

      Ane gak menyalahkan jalan pikiran simple gan, karena jujur itu yang paling bagus. Do not mingle with anyone business, gak akan ada hate speech buat LGBT dari mereka yang gak pernah ngerasain itu 😀

      Begitu kaisar yang sekarang turun tahta, penggantinya kan dari generasi pasca perang, jadi buat ane mungkin dia berpikiran lebih terbuka. Yah, semua kekuasaan hukum tetep di parlemen, tapi pengaruh kaisar masih kuat. Jadi bisa aja.

      Like

    2. Maaf td kepencet maklum sabtu, rumah jd tmpt penitipan anak.
      Memang banyak pilihan, itu pilihan mereka dan hak mereka sebagai manusia tp bagaimana tanggung jawab mereka sebagai manusia?

      Like

  13. Reika oshi here.
    Liat di pesbuk, ikut nimbrung yak kk.

    Dan bagaimana dengan pendapatmu mengenai LGBT? Share your thoughts.

    Kayanya sebagian orang (dan gw rasa juga termasuk gw) ngga suka dan bahkan menolak paham LGBTQ dan bukan karena alesan “udah dari dulu begitu” atau alesan “the inherited hatred” laen semacemnya, tapi ke masalah penularan penyakit sama kelangsungan oemad manusia.

    Kita semua tau lah ya kalo cowo+cowo atau cewe+cewe ngga bisa (atau lebih tepatnya belum bisa) bikin keturunan secara biologis. Sekarang gw dan lu kk orion, kita bisa aja ngga kepengaruh sama cinta sesama jenis yg bener – bener serius, tapi gimana sama anak kita ke depannya nanti? Apa kita, atau orang tua pada umumnya bisa bener – bener ngarahin anak ke jalan yang kita anggep bener? Perlu diinget juga kalo dr sekarang yg kaya gini udah terlalu dinormalisasiin dan diwaktu anak kita lagi masa ABG alias masa – masa paling rapuh dalem segi mental, apa dia ngga ikut2an? Preventing is better than curing. Kids zaman now aja dapet informasinya gampang banget lewat sosmed, berita viral, dll, gimana ke depannya…

    Gw sih ngga tau kalo menurut pendapat lu kk, tapi gw ngga mau anak gw jadi pecinta sesama jenis yg nantinya ngadopsi anak orang laen yg ga ada sangkut pautnya sama gw dan leluhur. Gw sama sekali ngga ada masalah sama ngadopsi atau ngangkat anak bagi org2 kurang beruntung yg ngga bisa punya anak kandung. Bayangin aja dari sekian banyak generasi, tapi itu semua warisan waktu berhenti di satu titik gitu aja dan bukan karena penyakit/kelainan, tapi karena pilihan orang itu sendiri. Kalo di manga One Piece ibaratnya ada satu panel kotak harta karun, trus pas itu kotak dibuka malah ngga ada isinya dan ada sound effect “DOO~~N!!”

    Okelah sekarang orang bisa bilang “tapi kan gw gay/lesbi cuma buat seneng2 aja” dan alesan gw juga nentang hal yang satu ini karena masalah penyakit tadi KECUALI emang ada sertifikat ato surat keterangan dokter yg nyatain dia sehat, dimana hal kaya gini “biasanya” ada didunia perfilman bokep. Kalo lu bedua sehat dan cuma buat have fun, silahkan asal jgn kelewat sering biar ngga ikut kebawa arus.

    And to me, it’s a shame, because all humans are equal.
    Bener, semua manusia itu sama. Yg bikin beda ya kelakuan dan perbuatan manusia itu sendiri.

    Homosexuality have existed since the beginning of time itself.
    Sistem kerja paksa alias perbudakan yg sadis juga sama. Tapi kita ngga ngeberlakuinnya lagi kan?

    Sebelom ada orang yg bales “slow ae boss komennya”, emang gaya ketikan / postingan gw kaya gini ;^)

    Like

    1. Panjang nih 😀

      Pertama, ane gak pernah bilang ane mendukung atau menolak LGBT loh, atau tindakan2 yang “dianggap perlu” untuk mereka. Yang ane dukung, karena mereka udah jadi LGBT, itu pilihan hidup mereka, dan ane ngedukung mereka buat dapet pengakuan. Gak jauh2 sampe legalizing same sex marriage, sekedar mengurangi bullying aja udah cukup kok 😀
      Dan ane yakin satu hal; gay is not contagious.

      Kalau soal keturunan, well, human are already overpopulated. Kita sendiri hidup di delusi kalau semua baik2 aja, the planet is suffering, dan punya anak berarti hidup bahagia. Sekali lagi, pendapat ane soal ini subyektif, hidup gak cuma hitam dan putih, selalu ada abu2nya. Manusia akan berhenti di satu titik? Gak akan karena manusianya itu sendiri kompleks ya, ya contohnya kaya diskusi soal ini aja deh 😀

      Sementara soal penyakit, ya itu masih jadi fakta yang gak bisa dibantahkan. God’s given. Tapi ane juga yakin, dan tahu, ada orang yang naruh sex sebagai hal kesekian. Dan beberapa dari gay couple itu, ya milih hal kaya gini meski cuma segelintir. Sama aja kaya straight yang ada yang lebih suka ngejar karir sih.

      Ya, dari awal ane bikin ini artikel untuk diskusi kok gan, jadi ya ane gak masalah sih. Thanks udah mau berkunjung dan komen 😀

      Like

    2. Pertama, ane gak pernah bilang ane mendukung atau menolak LGBT loh

      Gw juga ngga bilang kalo lu ngedukung ato penganut paham LGBT kok kk ori wkwkwk cuma ngasih perumpaan aja.

      itu pilihan hidup mereka, dan ane ngedukung mereka buat dapet pengakuan

      Gw pribadi ngga ngedukung “pengakuan” ini karena nanti efeknya bisa kemana2. Kalo misalnya LGBT yg “dulunya” dianggep ilegal secara hukum dan sosial tapi sekarang fine2 aja, bisa aja nanti dimasa depan orang2 nganggep kalo, contoh, pedofilia itu fine. Ini bukan tentang di satu permasalahan aja tapi snowball effect yg mungkin nyebar kesana sini.

      gay is not contagious

      Maybe biologically. But socially? Yes. Believe it or not, I do have actual lesbo & gay friends, and I’m not saying this to get a free pass to talk shit about them. The reason they became like that was because of their environments and social circles. I know it’s anecdotal evidence, but I thought it’s worth to mention it.

      Buat orang2 laen yg baca postingan gw dan ngga setuju ato ngga seneng sama yg lu baca, dengan gw komen gini juga bukan berarti stiap ngeliat org yg “nyimpang” bakal gw gebukin rame2 ato persekusi kaya di tivi2. Gw sama sekali bukan social justice warrior yg hobi virtue signalling, tapi gw juga bukan org dengan pemikiran asal hajar kaya gitu, cuman plis keep it to yourself

      Nais topik btw, ampe jadi top page malahan wkwkw
      Sukses terus ngeblognya kk ori

      Like

    3. I do agree with snowball effect. Karena seinget ane pernah ada tokoh dari Timur Tengah atau anti-LGBT di Amerika yang bilang hal yang sama. Dan yah, ini kompleks, karena dari awal, orang-orang yang dari lahir ada masalah sama sexualitas jadi pihak paling kalah.

      Sekarang ini emang lebih banyak dipengaruhi sama lingkungan, but by nature, masih banyak orang2 yang prejudice sama LGBT. Berusaha merubah orientasi sexual dari lahir? Ane yang berusaha ngurangin rokok aja susah payah kok, apalagi ini yang soal batin kan?

      Jadi intinya, kalau ada kelompok LGBT ya let it be aja, tapi juga gak ngedukung sampe segitunya kan? Juga gak berubah jadi manusia zaman batu begitu ada hal yang menyimpang? 😀

      Ane tahu topik ini bakal jadi diskusi panas, dan ane akhirnya rilis ini juga karena sakit hati sama orang yang copas artikel ane seenaknya, karena jumlah komen gak bohong 😀

      SIpp deh, thanks udah mampir dan komen 😀

      Like

  14. setelah sekian lama akhirnya komen juga.

    menurut gue sendiri sebagai seorang pria gay discreet(lu gk salah baca), Lgbt benar2 suatu hal yg gk normal. apalagi kalau ngomongin lgbt pride. enggak banget lah.
    bayangin aja orang yg bangga dengan keabnormalannya. its totally wrong.

    mungkin kalian udah sering dengar kalo lgbt itu bukan penyakit. tapi tau apa orang2 straight soal gay ? apalagi untuk urusan LGB (T lebih gue anggap sebagai hasil dari lingkungan sosial).
    memang kebanyakan orang2 Seperti kami kenal dunia lgb dari pergaulan yg salah. contoh umumnya itu kayak ada orang yg awalnya straight dan dia punya masalah (kebanyakan masalah hubungan dengan lawan jenis) lalu datang lah lgb yg mendekat dan care dengan masalahnya lau lanjut lanjut tau lah kemana ujungnya.
    belum lagi yg paling bahaya itu saat seorang straight punya kesempatan atau mungkin dipaksa untuk berhubungan seks sejenis dan ternyata menikmati nya (ini gue). apa kalian masih merasa ini gk seperti penyakit menular ?

    mungkinn bakalann ada yg bilang gue munafik karena menolak keberadaan gay lainnya. apalagi di saat yg sama gue juga menikmatinya.

    tapi gue juga mau sembuh. pengen hidup normal berpasangan dengan lawan jenis gue. ngidol bisa dibilang salah satu cara gue buat sembuh dan nyembunyikan identitas gue sebagai gay. *jadi curhat

    untuk kasus wakarei sendiri gue berharap itu cuma gimmick buat menarik fans. enggak lebih. walopun gue liat Reika sepertinya benar2 hopeless banget sama lawan jenisnya.

    Like

    1. Well, I’m in no position to judge. Apalagi buat yang ngalamin, ane cuma liat ini dari sisi yang ane tulis, dimana mereka yang ane kenal cenderung represif. Dan ane cuma mau bilang, it’s your life, do not let anybody stirred you up.

      Ane juga bilang, semuanya ada abu-abu selain hitam & putih. Pengalaman agan kalau ane boleh ngomong, ini karena agan ngalamin pribadi dan merasa marah sama diri sendiri.

      Dan bukan berarti ane bilang gini asal bicara ya, karena juga pernah ngalamin yang kurang lebih sama (diseret dalam arus dan kehilangan pekerjaan) tapi ane paham, siapapun yang tenggelam pasti narik orang lain, buat minta tolong diselamatkan atau narik buat mati bareng.

      Agan ngalamin yang kedua, jadi ane wajar kalau marah. Sekarang berusaha kembali jadi straight karena ane tahu, sosial masih represif banget sama ini. Ane dukung sih, semua yang bikin orang lain merasa lebih lega.

      Terakhir, thanks mau berkunjung dan komen gan, karena ane emang mau lebih banyak mendengar kisah LGBT yang real 🙂

      Like

  15. Karena banyak umat silent reader yang muncul ke permukaan ane ikutan lah, haha. Udah setahun kyknya SR dimari.

    Selamat malam om empunya kosan, & (serigala2) penghuni kosan semua, salam kenal dan mohon bantuannya….

    Kalo ane melihat LGBT itu ada 2 hal, pertama sebagai gerakan (LGBT Pride), kedua sebagai masalah/perilaku personal seseorang.
    Kalo ada seseorang yg memilih utk LGBT menurut ane (kalo terlepas dari masalah agama, hukum & penerimaan publik) ya itu urusan personal dia (atau mereka). Selama mereka pny ‘alasan’ dan bisa kuat ngejalanin & nerima konsekuensi sosialnya, ga akan jadi masalah buat ane. Walopun ane terus terang ga suka sama LGBT dan gak akan ikutan ngelakuin itu. LGBT menurut ane tetaplah sebuah keanehan, sorry to say. Tapi ane bakal tetep hormati orang yg ambil pilihan itu.
    Tapi terus terang berdasar apa yg ane ketahui sampai sekarang ane akan bersikap anti pd kampanye LGBT (LGBT pride atau apapun itu).
    Jadi mgkn ane gini “lu mau LGBT, it’s ok, ga ada masalah buat gw. Tapi tolong jangan bangga2in itu ke orang laen dan jgn paksa semua orang utk nerima keputusan lu”.

    Kalo soal wakarei ? sebagai penikmat dunia perkapal-kapalan oshi, ane nikmatin kok hubungan mereka, haha. To be honest, pas mereka udah ‘renggang’, ane kok merasa ada sesuatu yg hilang pas nonton kojichu atau nogibingo. *eh
    Tapi kalo mereka ‘beneran’ ? Haha, entahlah…

    Like

    1. Setdah, sekarang image kosan ini mirip sama kandang serigala sebelah 😀
      Thanks udah mau komen gan 😀

      Well, kalau dari nature gimana? Banyak cerita kan, anak2 yang hermaphrodite atau lahir gak sempurna, atau tersiksa sama hormon mereka? Mereka biasanya jadi transgender. For their own sake.

      LGB juga emang sekarang ini lebih banyak karena lingkungan meski ane bilang gak 100% karena sekali lagi, manusia kompleks dan dunia gak cuma hitam putih. Jadi ane sepakat sama agan, “it’s your life, you’re owning it”

      Anehnya banyak kan yang demen shipper, girl’s love? Contoh kalau selalu ada abu-abu di semua hal 😀

      Like

    2. 11 12 lah sama kosan sebelah. Beda jenis aja cara ngeluarin iler serigalanya, wkwk..
      *btw gw blm pernah komen di kosan sebelah, sorry bpk detektif..

      T krn Nature ? Well, ane ga tahu gimana baiknya kalo menurut sains, jadi no comment kalo bahasan ilmiah. Cuman kalo memang menurut sains lbh baik mereka T ya ga ada masalah.

      Girl’s love (n’ danso) slh satu fanservice terbaik menurut ane sih. Kita bisa ngeliat dan menikmati (?) ekspresi bahagia member tanpa perlu merasa terluka (kayak pas ngeliat kiss scene sama aktor cowok misalnya).
      Selama ini kalo ship sesama idol cewek (atau cowok) gitu pernah dpt respon negatif ga sih di jpn/korea ?

      Like

    3. Oh shit 😀

      Psikologis yang kena, tapi ane juga gak bisa nulis panjang2 soal ini (dari NatGeo sampe belasan halaman sih, susah ngerangkumnya) 😀

      Kadang bahagia itu… ah sudahlah 😀
      Sejauh ini sih responnya positif, contrary sama pandangan soal LGBT yang tertutup. Aneh kan? 😀

      Like

    4. Ya walau gimanapun ane juga harus ngucapin makasih buat share2an gambar HDnya wkwk

      Hmm…

      Ya emang gitu keknya realita dunia peridolan. Aneh tapi nyata.

      Like

  16. ikut diskusi ya 😀

    sepertinya adminnya lebih butuh pembahasan dari sisi humanis ya? hehehe
    ya..kalau menurut saya,lgbt (atau pun yg mendukung mereka) itu ibarat buah kedondong (iykwim)
    mengatasnamakan pilihan hidup,ham,dan sebagainya. well,looks great… everybody wanna be nice person.
    tapi, gimana kalau kita liat dalam jangka panjang?
    pernah baca postingan seorang dokter yang harus mengoperasi pasien lgbt (plus ppengidap hiv karena sering ‘begituan’)? meskipun disitu pak dokternya nggak menuliskan operasi dalam rangka apa,dugaan saya sih itu penyakit kelamin (secara dokternya nulis pasien tersebut gonta-ganti pasangan udh 8x)
    beliau menuliskan,meskipun sudah belasan tahun melakukan tindak operasi,tapi tetap saja mengoperasi seorang pasien dengan hiv adalah hal serius. tergores pisau operasi,atau tak sengaja tertusuk sedikit saja jarum suntik bisa fatal akibatnya.
    postingan dokter itu sempet viralbersamaan isu lgtb diindo bbrp wkt lalu. jelas byk yg pro,tp ada juga yg kontra. mirisnya,yg kontra itu malah menganggap pak dokter menyudutkan mengidap hiv. padahal maksud beliau adalah ada alasan yg kuat juga,mengapa kita berhak menolak lgbt. (kalau adminnya penasaran,bisa disearch kok,dokternya orang indo) dan tulisan itu juga beliau tujukan untuk orang2 yg MAU mendukung lgbt agar berfikir dulu 1000x sebelum KOAR2 mendukung.

    secara agama,jelas saya ikut aturan agama saya yaitu islam.

    dan jujur saja,di sakamichi saya suka dengan kedekatan antar member,bahkan di keya saya bikin2 combi sendiri,hahaha..tapi nggak sampe ke ‘arah sana’ juga. saya malah berharapnya para member ttp menikah dgn lelaki dimasa yg akan datang. itung2 meningkatkan angka kelahiran di sono lah 😀 miris bgt dah jepang.

    sori panjang,thanks bgt kalau beneran baca tiap paragrafnya. dan saya mau kasih selamat utk adminnya karena berhasil membawa para silent reader (termasuk saya) kepermukaan. wkwk. piece.

    Like

    1. Bicara jangka panjang, terutama dari sisi medis, jelas banyak kontra. Kalau soal HIV, straight juga ada di posisi yang gak lebih bagus, dan it’s not all about sex. Ada faktor genetik, drugs, dll. Dan yah masalah ini selalu ada pro kontra kan, dan semua punya dasar yang kuat. Kembali ke pribadi masing-masing sebenernya.

      Kalau hubungan sama lelaki, ane gak berani ngomong deh, bahaya 😀

      Hahaha, kalau urusan begini aja pada keluar semua 😀

      Like

  17. Mencoba untuk berkomentar kembali di postingan yang “panas” untuk dibahas

    ane minta maaf sebelumnya karena kurang nyaman dengan locked post sehingga ane mengurangi aktivitas kunjungan ke blognya agan admin, tapi ane menghargai keputusan agan admin sebagai pemilik situs untuk melindungi postingannya dari plagiarism

    kembali ke bahasan postingan, pride untuk jenis “ketiga” ini ane berpendapat sampai kapanpun seluas mata dan pikiran seseorang berusaha dalam memandang dan memahami golongan “ketiga” ini, jatuhnya akan tetap berujung penolakan jika diletakkan diantara keyakinan dan kemanusiaan, let’s say agama dan hak asasi manusia. Dari sudut pandang agama, sudah jelas bahwa hal ini dilarang. tetapi dari sudut pandang manusiawi, golongan “ketiga” ini memang memerlukan penerimaan, bukan diskriminasi semacam penyakit menular atau cacat mental dan sebagainya.

    Jujur saja, ane punya teman jenis “ketiga” ini, bahkan ane pernah nyemplung ke dunia mereka. Mengenal dunia mereka sampai akhirnya tahu curhatan tentang tekanan yang mungkin sangat hebat di batin mereka, bagaimana mereka harus memasang “topeng” agar diterima di negara yang mayoritas tidak menerima keadaan mereka, sampai meningkatkan kesabaran dan ketangguhan hati yang berkali-kali lipat karena pergaulan sesama jenis itu.

    Ane ga akan pakai istilah hitam atau putih maupun abu2 tentang mereka. Karena keadaan di masyarakat juga seolah permainan cermin, mayoritas memainkan area kanan, jenis “ketiga” memainkan area kiri. Bagi orang normal, hubungan ideal itu adalah dengan lawan jenis (konteks normal secara universal), dan itu siksaan perasaan bagi orang2 yang ada di jenis “ketiga” dimana hubungan ideal menurut mereka adalah kenyamanan yang mengesampingkan jenis kelamin.

    Yang jelas, untuk pride “ketiga” ini, legalitas bukan tujuan mereka sebenarnya. Mereka hanya butuh lebar tangan yang terbuka dari mayoritas untuk hidup berdampingan dengan menerima keadaan dan kenyataan mereka. ane bukan mendukung, tapi ane percaya karena pilihan mereka, maka mereka juga bertanggung jawab pada pilihannya. Hanya saja, sebagai mayoritas harus siap membentengi diri ketika mereka benar2 menyentuh dan menyeret ke dunia mereka.

    Dan jika nogi mengalami efek pride “ketiga” ini juga, ane tidak dapat berbuat banyak karena itu pilihan yang bisa mereka pertanggung jawabkan. selama mereka berkarya, ane dukung mereka.

    Btw, golongan “ketiga” ini juga adalah salah satu yang jadi project kecil blog ane, meskipun memang kontennya sensitif tapi ane mencoba dan berharap supaya project kecil ane ini bisa mengurangi pandangan diskriminatif mayoritas terhadap itu.

    Thanks for agan admin, sudah mengangkat hal ini sehingga ane bisa komen tentang uneg2 ane 😀

    Like

    1. Ya sebenernya ane juga gak mau pake lock2 segala gan, cuma apa boleh buat sih 🙂
      Kalau ada uang lebih mungkin gak bakal ada lock2an lagi, ya semoga aja deh 😀

      Dua sisi mata uang sih, heads & tails, at the very least, ane cuma mau mereka gak dibully, itu aja. Atau dipandang sebagai separo-manusia. It hurts. Paragraf ketiga & keempat yang agan tulis ini juga ane alamin, denger curhatan sama liat langsung resepsi publik, bahkan kadang keluarga sendiri, imagine myself in their shoes… urgh.

      Same-sex marriage sejauh ini juga bukan solusi yang bener2 bagus selama orang belum bisa berpikiran terbuka. Abuse & harassment masih sering kita liat bahkan di negara2 yang udah legal. COntoh paling gampang soal homophobia, Uncle Donald. Yang dibutuhin sebenarnya toleransi, bukan jadi sok suci.

      Ditunggu berita soal artikelnya gan 😀

      Like

    2. Aamiin, semoga rezekinya dilebihkan 🙂

      Analoginya tepat, tapi menurut ane jadinya nilai sudut pandangnya pecah. kalau dikatakan seperti itu jelas orang2 akan terus merendahkan kategori “ketiga” itu sampai kapanpun. Menyakitkan? Jelas… Tapi ya mau bagaimana, karena emang sejak awal mayoritas mengatakan normal itu “I dan O” bukan “double I” atau “double O”.

      maaf kalau seandainya kalimat ini agak kasar. Ane tegaskan takutnya ada yang salah menafsirkan, bukan membela mereka yang berada di kategori “ketiga” tapi seandainya jika keadaan mayoritas ini terus membenci apapun yang terkait dengan kategori “ketiga” meskipun bukan kepada orangnya tapi kepada paham atau konsep dan segala macamnya. Bagaimana kalau skenarionya terbalik? dimana mayoritas adalah kategori “ketiga” dan yang normal saat ini jadi yang direndahkan? atau yang saat ini normal kemudian besok atau sedetik kemudian terbesit masuk kategori “ketiga” itu? Jalan hidup siapa yang akan tahu?

      Satu2nya jalan untuk itu yang menurut ane sepakati benar sama agan admin adalah toleransi di antara kedua belah pihak. Mayoritas menerima tapi berhenti untuk membenci, dan kategori “ketiga” berlaku sewajarnya dan tidak menyeret mayoritas ke dunianya. Masing2 punya hal yang dapat dipertanggungjawabkan dan pasti akan dipertanggungjawabkan sesuai dengan pilihannya.

      Like

    3. Ditunggu berita soal artikelnya gan 😀 -> Sebenarnya bahan udah siap, cuma rasanya buat ane pribadi belum cukup kuat untuk menanggapi respon2 yang akan bermunculan nantinya, dari segi waktu juga ane belum siap untuk merilis dalam waktu dekat… mengingat sensitivitas akan hal ini ada di level 80%, terlebih lagi bentuknya bisa dibilang dokumenter yang menyangkut ane pribadi dan interaksi ane dengan mereka yang ada di kategori “ketiga”. Jadi mungkin ane ga akan up dulu, btw thanks agan admin udah respon ane dengan baik

      Like

    4. Hehehe, masih rencana tapi 😀

      Yang dibutuhin orang2 cuma toleransi, tapi ya emang susah di zaman sekarang. Mayoritas atau minoritas, semuanya sama aja. Silent Majority 😀

      Well, selalu ada pro kontra, di artikel ini aja udah keliatan kan? Dan buat ane, pas nulis artikel ini, pengen tahu pendapat orang. Hasilnya? Ya kadang migrain juga ane balesin komen yang harus bikin mikir dari sudut pandang lain 😀
      Satu lagi, karena menurut ane pembahasan soal LGBT gak lebih kurang ajar ketimbang nodong tanya sama orang “agamanya apa?” dan semacamnya 😀

      Like

    5. Yup, rencana untuk diterbitkan 😀

      Setuju, toleransi saat ini cuma enak diomongin aja, praktiknya? lambaikan tangan 😀

      bahasan berat sih emang, kalau gabisa nahan subjektifitas ya pasti bakalan berat sebelah jatuhnya

      Satu lagi, karena menurut ane pembahasan soal LGBT gak lebih kurang ajar ketimbang nodong tanya sama orang “agamanya apa?” dan semacamnya 😀 -> ini maksudnya berarti lebih baik diperbincangkan daripada langsung dor bawa unsur2 agama dan lainnya?

      Like

    6. #ditunggu 😀

      Makanya populasi sekarang harus ngurang2in micin 😀

      Ya gitu deh 😀

      Bukan, tapi karena nonsense aja sok2 religius pas bahas soal LGBT tapi kalau tau orang lain agamanya beda langsung berubah pandangan. That’s idiotic.

      Like

    7. anjaay komen andalan ane malah jadi berbalik 😀

      micin everywhere 😀

      That’s idiotic. -> ngakak parah 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s